
SPS Milad ke-8: Santunan Yatim Piatu, Panggung Seni Budaya Warnai HUT RI bersama Nahkoda Baru
detakindonesia.online TANGERANG,
Milad ke-8 Seniman Peduli Sesama (SPS) bukan sekadar perayaan hari jadi. Momentum yang dirangkai dengan santunan anak yatim piatu, perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, hiburan rakyat, serta pergantian kepemimpinan tersebut menjadi penanda babak baru perjalanan SPS di tengah masyarakat. Kegiatan yang digelar Rabu, 19 Agustus 2026, di Jalan KH Hasyim Ashari, Gang Ambon PLN, RT 002/RW 006, Kelurahan Nerogtog, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, berlangsung semarak dan mendapat antusiasme masyarakat.
Salah satu agenda penting dalam rangkaian kegiatan tersebut ialah pergantian Ketua Umum SPS periode 2026–2031. Kepemimpinan yang sebelumnya diemban Jaini Ubay kini beralih kepada Sukandi. Usai dipercaya memimpin SPS untuk periode lima tahun ke depan, Sukandi menegaskan komitmennya untuk menjalankan amanah secara bersama-sama dengan seluruh jajaran dan anggota organisasi.
“”Bagi saya, menjadi ketua bukan sekadar Jabatan, tetapi amanah. Saya ucapkan terima kasih untuk keluarga besar SPS yang telah memberikan kepercayaan. Insya Allah amanah ini saya jalankan bersama-sama,” kata Sukandi.
Pergantian kepemimpinan tersebut sekaligus menjadi momentum konsolidasi internal SPS untuk memperkuat organisasi, menjaga eksistensi para seniman, serta meningkatkan kiprah sosial di tengah masyarakat.
Ketua Panitia Milad SPS ke-8, Diah Martin, menegaskan bahwa peringatan tahun ini sengaja dikemas tidak hanya sebagai seremoni organisasi maupun hiburan. Menurutnya, Milad SPS menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya anak yatim dan kaum duafa.
“Milad SPS bukan hanya tentang merayakan bertambahnya usia organisasi. Kami ingin momentum ini menjadi kesempatan untuk berbagi, bersilaturahmi dan memberikan manfaat kepada masyarakat, khususnya anak-anak yatim dan duafa,” kata Diah.
Semangat tersebut terlihat dari keterlibatan berbagai unsur masyarakat dalam kegiatan. Warga tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi ikut menjadi bagian dari rangkaian acara yang menggabungkan seni, sosial, budaya, dan hiburan rakyat. Dari sisi hiburan, panggung SPS menghadirkan sejumlah artis ibu kota dan penyanyi dangdut. Acara dipandu Andi Shanu dan Wahyu sebagai pembawa acara.
Penampilan Caca Handika menjadi salah satu magnet utama. Penyanyi tersebut membawakan lagu Rani dan Cincin Putih, yang disambut antusias penonton. Panggung hiburan juga dimeriahkan Ella Latah, Tommy Ali, Mia KDI, Aji Irama, Iis Faramida, Ana Wanda, Rena Zahra, Anty Betung, Ia Yuntia, Nur Gibran, Antia Mansyur, Rara Monalisa, Raina, dan Juwita.
Kemeriahan panggung tersebut semakin lengkap dengan berbagai perlombaan rakyat dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Di balik gemerlap panggung dan hiburan, santunan anak yatim piatu menjadi salah satu agenda penting dalam Milad SPS ke-8.

Kegiatan sosial tersebut mempertegas karakter SPS sebagai wadah seniman yang tidak hanya berkutat pada dunia pertunjukan, tetapi juga berupaya hadir dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Bagi SPS, seni dan kepedulian sosial bukan dua hal yang harus dipisahkan. Panggung menjadi ruang berekspresi, sementara kegiatan sosial menjadi bentuk nyata keberpihakan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Dukungan terhadap perjalanan SPS turut disampaikan H. Maryono Hasan, AP., M.Si., melalui video streaming. Maryono mengapresiasi konsistensi SPS selama delapan tahun dalam menjaga semangat kepedulian sosial sekaligus memberikan ruang bagi perkembangan seni dan budaya. Ia berharap memasuki usia ke-8, SPS semakin maju, berkembang, dan memperluas kiprahnya dalam membantu masyarakat.
“Semoga di usia yang ke-8 tahun ini, SPS terus semakin maju dan berkembang serta tetap peduli terhadap sesama, khususnya membantu teman-teman dan masyarakat yang masih memiliki kekurangan,” ujar Maryono.
Rangkaian kegiatan Milad SPS berlangsung selama tiga malam, dengan menggabungkan hiburan rakyat, perlombaan, seni budaya, santunan sosial, serta agenda organisasi.
Kehadiran masyarakat menunjukkan bahwa ruang seni dan budaya masih memiliki daya kuat untuk membangun komunikasi sosial sekaligus mempererat persaudaraan. Dengan pergantian kepemimpinan kepada Sukandi untuk periode 2026–2031, Milad ke-8 SPS sekaligus menjadi titik awal bagi kepengurusan baru untuk melanjutkan perjalanan organisasi.
Delapan tahun bukan sekadar angka. Ia menjadi catatan perjalanan sekaligus tantangan baru bagi SPS untuk membuktikan bahwa seniman bukan hanya mampu menghibur, tetapi juga mampu bergerak, berbagi, dan hadir ketika masyarakat membutuhkan. SPS kini memasuki babak baru: kepemimpinan baru, semangat baru, tetapi satu komitmen yang tetap sama—seni untuk masyarakat dan kepedulian untuk sesama.
Rohim








