
Danrem 072 Pamungkas Hadiri Awarding Karang Taruna 2026, Sultan: Pemuda Harus Berdampak Nyata
detakindonesia.online SLEMAN,
Komitmen memperkuat peran generasi muda dalam pembangunan sosial kembali ditegaskan melalui malam penganugerahan (Awarding Night) Bulan Bakti Nasional Karang Taruna 2026 di Pendopo Agung Kedhaton Ambarrukmo, Sleman, Danrem 072/Pamungkas Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono, S.Sos., M.Si., M.Sc., turut menghadiri kegiatan yang mengusung tema “Bersatu, Bergerak, Berdampak” tersebut.Jumat (23/10/2026) malam.
Kehadiran Danrem 072/Pamungkas dalam agenda nasional ini menempatkan penguatan kapasitas pemuda sebagai bagian penting dari pembangunan masyarakat. Karang Taruna tidak hanya dipandang sebagai organisasi kepemudaan, tetapi juga sebagai instrumen penggerak solidaritas sosial, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan solusi atas persoalan yang dihadapi warga.
Kegiatan yang dihadiri sekitar 350 undangan tersebut turut dihadiri Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, Pangdam XXVI/Mataram Mayjen TNI Drajad Brima Yoga, Kapolda DIY Irjen Pol. Langgeng Purnomo, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus, Ketua Umum Pengurus Nasional Karang Taruna Budisatrio Djiwandono, serta sejumlah pejabat pemerintah pusat dan daerah.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan bahwa keberhasilan Karang Taruna tidak semestinya diukur berdasarkan banyaknya kegiatan yang diselenggarakan maupun kemeriahan program seremonial. Tolok ukur utamanya adalah sejauh mana kegiatan tersebut menghasilkan perubahan konkret dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Keberhasilan Karang Taruna tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat,” demikian substansi pesan Sri Sultan dalam sambutannya.

Pandangan tersebut menegaskan bahwa aktivitas organisasi harus berorientasi pada hasil, bukan sekadar rutinitas kelembagaan. Program kepemudaan perlu memiliki tujuan yang terukur, menjawab kebutuhan masyarakat, serta menghasilkan perubahan sosial yang berkelanjutan.
Kepedulian sosial baru memiliki nilai strategis ketika diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Karang Taruna dituntut mampu mengubah empati menjadi pemberdayaan, semangat gotong royong menjadi kekuatan kolektif, serta gagasan menjadi solusi yang menjawab persoalan masyarakat.
Sri Sultan juga menyoroti posisi strategis pemuda yang memiliki kedekatan langsung dengan kehidupan masyarakat di tingkat akar rumput. Kedekatan tersebut merupakan modal sosial yang memungkinkan kader Karang Taruna mengenali persoalan warga secara lebih akurat, sekaligus merumuskan program yang sesuai dengan kebutuhan setempat.
Persoalan lapangan kerja, ketahanan pangan, lingkungan hidup, hingga pendampingan keluarga menjadi sejumlah bidang yang membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda. Karena itu, Karang Taruna diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosial yang bersifat insidental, tetapi membangun program pemberdayaan yang terarah, konsisten, dan mampu meningkatkan kemandirian masyarakat.
Sri Sultan juga menekankan pentingnya inovasi sosial melalui pelibatan masyarakat, pemanfaatan teknologi tepat guna, serta pengembangan model program yang dapat direplikasi di wilayah lain.
Pendekatan tersebut menjadi penting agar keberhasilan di suatu daerah tidak berhenti sebagai capaian lokal, melainkan berkembang menjadi praktik baik yang memberikan manfaat lebih luas. Dengan demikian, Karang Taruna memiliki peluang untuk memperkuat perannya sebagai organisasi yang mampu menjembatani kebutuhan masyarakat dengan inovasi dan sumber daya pembangunan.
Senada dengan pandangan tersebut, Ketua Umum Pengurus Nasional Karang Taruna Budisatrio Djiwandono mengapresiasi kontribusi kader yang terjun langsung membantu masyarakat, termasuk warga terdampak bencana alam.
Ia juga menyoroti tumbuhnya berbagai inovasi pemuda dalam bidang kewirausahaan sosial, pertanian, peternakan, serta pengolahan limbah menjadi produk bernilai ekonomi.
Berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bahwa kepemudaan memiliki potensi untuk berkembang melampaui kegiatan sosial konvensional. Dengan pengelolaan yang tepat, kreativitas generasi muda dapat menjadi kekuatan produktif yang membuka peluang usaha, memperkuat ekonomi masyarakat, dan mendorong pemanfaatan sumber daya lokal.
Budisatrio turut mendorong peningkatan keterampilan generasi muda agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Penguasaan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kepekaan sosial. Dengan bekal tersebut, pemuda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk menciptakan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Karang Taruna, dalam konteks ini, diharapkan tetap mempertahankan karakter gotong royong dan kepedulian sosial sekaligus membangun kapasitas organisasi yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman.
Sementara itu, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengajak Karang Taruna mengambil peran aktif dalam mendukung program pemerintah, terutama pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan melalui pendidikan.
Ia menegaskan pentingnya memastikan keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi anak-anak Indonesia untuk mengembangkan potensi dan memperoleh masa depan yang lebih baik.
Pendidikan dan pemberdayaan menjadi dua aspek yang saling berkaitan dalam memutus rantai kemiskinan. Karena itu, keterlibatan organisasi kepemudaan diperlukan untuk memperkuat solidaritas sosial, memperluas akses terhadap kesempatan belajar, serta membantu masyarakat mengembangkan kapasitas dan kemandirian.
Kader Karang Taruna yang berada dekat dengan lingkungan warga dapat berperan sebagai penghubung antara kebutuhan masyarakat dan program pemberdayaan yang dijalankan pemerintah. Peran tersebut membutuhkan koordinasi, keberlanjutan program, dan kemampuan mengidentifikasi kelompok masyarakat yang membutuhkan pendampingan.

Malam penganugerahan Bulan Bakti Nasional Karang Taruna 2026 turut memberikan penghargaan kepada para inovator sosial, Karang Taruna berprestasi, serta pemenang Olimpiade Bahasa Sekolah Rakyat dalam bidang Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan Bahasa Mandarin.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap prestasi, kreativitas, dan kontribusi generasi muda dalam menghadirkan gagasan serta tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Namun, nilai strategis penganugerahan ini tidak semata-mata terletak pada pengakuan atas prestasi. Penghargaan diharapkan menjadi pemantik bagi lahirnya lebih banyak inisiatif sosial yang dapat dikembangkan, diperluas, dan memberikan manfaat berkelanjutan.
Dalam kerangka tersebut, tema “Bersatu, Bergerak, Berdampak” mengandung pesan bahwa solidaritas harus melahirkan tindakan, sedangkan tindakan harus menghasilkan perubahan yang dapat dipertanggungjawabkan manfaatnya.
Kehadiran Danrem 072/Pamungkas Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono bersama unsur pemerintah, TNI, Polri, dan organisasi kepemudaan dalam kegiatan tersebut memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat peran generasi muda dalam pembangunan nasional.
Pada akhirnya, tantangan Karang Taruna bukan sekadar menjaga keberlangsungan organisasi, melainkan membuktikan relevansinya melalui program yang menjawab kebutuhan masyarakat. Ukuran keberhasilan terletak pada perubahan yang dihasilkan: meningkatnya kemandirian warga, tumbuhnya peluang ekonomi, terjaganya lingkungan, dan menguatnya solidaritas sosial.
Semangat Bulan Bakti Nasional Karang Taruna 2026 diharapkan menjadi landasan bagi generasi muda untuk mengambil peran lebih strategis dalam pembangunan. Pemuda tidak cukup menjadi penonton perubahan, tetapi harus tampil sebagai pelaku yang menghadirkan solusi, memperluas manfaat, dan memastikan bahwa setiap gerakan sosial memiliki dampak nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara. (Penrem 072/Pamungkas)
Editor: Rhm/Sabar MD








